Medan | Seorang oknum anggota kepolisian bernama dodo memberikan klarifikasi terkait pemberitaan yang menyebut dirinya melakukan penodongan senjata api di sebuah barbershop di Kota Medan. Ia justru mengaku menjadi korban penganiayaan dalam insiden tersebut.
Peristiwa itu terjadi pada Senin, 6 April, sekitar pukul 02.00 WIB di kawasan Jalan Bambu hingga Jalan Mustafa, Medan.
Menurut keterangan dodo, saat itu dirinya bersama dua orang adiknya baru saja pulang dari sebuah tempat makan dengan mengendarai sepeda motor. Namun, setibanya di Jalan Bambu, mereka hampir tertabrak oleh dua pria yang mengendarai sepeda motor secara ugal-ugalan, menggunakan knalpot brong, dan diduga dalam keadaan mabuk.
“Setelah hampir tertabrak, kami menanyakan maksud mereka. Namun, justru kami mendapat kata-kata kasar,” ujar dodo dalam keterangannya.
Widodo menjelaskan, kedua pria tersebut kemudian mengarahkan mereka ke sebuah tempat pangkas rambut (barbershop) di Jalan Mustafa. Setibanya di lokasi, dodo dan adiknya mencoba menanyakan perihal kejadian tersebut secara baik-baik.
Namun, situasi justru memanas. Selain suara musik yang disebut sangat keras di lokasi, pertanyaan yang diajukan tidak mendapat respons baik dan berujung cekcok mulut.
Dalam kejadian itu, dodo mengaku mengalami tindakan kekerasan fisik. Ia menyebut kerah bajunya ditarik, kemudian dipukul di bagian wajah sebelah kiri, ditendang di bagian pinggang belakang sebelah kanan hingga terjatuh.
“Setelah saya terjatuh, saya juga diinjak di bagian perut,” jelasnya.
Akibat kejadian tersebut, dodo mengaku mengalami luka lebam serta nyeri pada bagian perut dan pinggang belakang sebelah kanan.
Setelah situasi mereda, seorang tokoh pemuda setempat datang untuk menengahi perselisihan. Kedua belah pihak kemudian sepakat berdamai di tempat dengan saling berjabat tangan dan bermaaf-maafan.
Namun demikian, beberapa hari setelah kejadian, muncul pemberitaan yang menyebut dirinya tidak memiliki itikad baik untuk meminta maaf.
Widodo membantah tudingan tersebut. Ia menegaskan bahwa dalam peristiwa itu justru dirinya yang menjadi korban kekerasan.
“Saat kejadian, kami sudah berdamai di tempat. Saya juga yang mengalami kekerasan dari dua orang tersebut,” tegasnya.
(Red)
Komentar